Rangkuman Interaktif: Bab 24 Epidural Hadzic's Regional Anesthesia
Hadzic Sec. 2 Ch. 24 Hal. 380–445

Epidural Anesthesia & Analgesia

Sumber Buku: Hadzic's Regional Anesthesia (R.D. Toledano & M. Van de Velde)

Panduan Lengkap & Rangkuman Terstruktur Anestesi & Analgesia Epidural

Dilengkapi sitasi nomor halaman asli buku [Hal. 380–445], tabel obat, kriteria antikoagulan ASRA, algoritme elevasi TIK, anatomi celah ligamentum flavum, dan pemecahan masalah klinis intraoperatif.

1

Sejarah & Indikasi Klinis Epidural

Cakupan indikasi lumbal, torakal (TEA), bedah vaskular, ginekologi, & kondisi khusus

Hal. 380–389

Tonggak Sejarah Anestesi Epidural

Hal. 380–381
  • 1880s: J. Leonard Corning mencetuskan injeksi anestesi lokal peridural (meski istilah awalnya spinal anesthesia). [Hal. 380]
  • 1901: Jean Sicard & Fernand Cathelin secara independen memperkenalkan blok kaudal dosis tunggal (kokain). [Hal. 380]
  • 1921: Fidel Pagés Miravé (ahli bedah Spanyol) mendeskripsikan blok torakolumbal peridural melalui sensasi taktil ligamen. [Hal. 380]
  • 1933: Achille Dogliotti mempopulerkan teknik Loss-of-Resistance (LOR). Bersamaan dengan Alberto Gutiérrez yang memperkenalkan teknik Sign of the Drop (tetes tergantung). [Hal. 380]
  • 1947: Manuel Martinez Curbelo (Kuba) mengadaptasi jarum Tuohy dan kateter ureter 3.5-Fr untuk kateter epidural kontinu pertama di dunia. [Hal. 381]
  • Era Modern: Penemuan kateter kawat terpilin (wire-reinforced stainless steel coil) mengurangi risiko kanulasi vena, parestesia, dan migrasi intratekal. [Hal. 381]
Tabel 24-2: Kebutuhan Level Sensoris Ortopedi
Hal. 382
ProsedurLevel Dermatom
Reduksi tertutup panggulT10 (Hanya untuk analgesia pasca-bedah)
Total Hip Arthroplasty (THA)T10
Total Knee Replacement (TKR)T12 (T8 jika tourniquet)
Amputasi atas/bawah lututT12 (T8 jika tourniquet)
Fraktur femur, tibia, kakiT12

*Catatan klinis: Injeksi di L3-L4 menjamin blokade adekuat hingga T10. Nyeri tourniquet muncul dalam 1 jam akibat iskemia C-fiber, dicegah dengan morfin bebas pengawet intratekal/epidural. Hal. 382

Tabel 24-5 & 24-6: Urologi & Ginekologi
Hal. 383–384
ProsedurLevel Dermatom
TURP & Sistoskopi vesikaT9–T10 (Deteksi dini sindrom TURP & perforasi)
Prosedur Ureter / ESWLT8 (Ureter) / T6 (ESWL)
Sistektomi / NefrektomiT4 (Sistektomi) / T4-T6 kombinasi GA
Kuretase (D&C) / Histerektomi VaginalT10 (D&C) / T4–T6 (bila peritoneum dibuka)
Bedah Testis / Penis / UretraT10 (Testis) / L1 (Penis) / Sakral (Uretra)

Anestesi Epidural Torakal (TEA) & Bedah Jantung / Paru

Hal. 384–386

Manfaat TEA (Tabel 24-7):

  • Analgesia perioperatif superior dibandingkan opioid IV.
  • Mengurangi komplikasi paru pasca-bedah (atelektasis, pneumonia).
  • Mempercepat resolusi ileus paralitik via blokade simpatis T5–T12.
  • Menurunkan mortalitas pada pasien multipel fraktur kosta. [Hal. 384]

High TEA pada Bedah Jantung (T1–T4):

  • Blok simpatis jantung: memperbaiki perfusi koroner, menurunkan oxygen demand miokard, dan menekan aritmia supraventrikular.
  • Kontroversi Heparinisasi: Risiko hematoma epidural akibat heparinisasi penuh pada CPB; penundaan 24 jam bila terjadi pungsi traumatik. [Hal. 384]
Level Kateter TEA Rekomendasi: Torakotomi (T2–T6 untuk dermatom T1–T10), Bedah Abdomen Atas (T5–T8 untuk gastrektomi/hepatik/kolesistektomi), Bedah Kolon (T9–T11). Hal. 385–387

Manajemen Pasien Penyakit Khusus

Hal. 387–389
Myasthenia Gravis (MG):

Menghindari pemakaian pelumpuh otot. Anestesi lokal golongan amida lebih disukai karena eliminasi ester diperpanjang oleh inhibitor kolinesterase. Dosis LA perlu diturunkan. [Hal. 387]

Autonomic Hyperreflexia (AH):

Terjadi pada lesi korda spinalis ≥T4–T7 (hingga 85%). Stimulasi memicu vasokonstriksi masif di bawah lesi & bradikardia refleks. Epidural menumpulkan respons simpatis hebat ini. [Hal. 387-388]

Malignant Hyperthermia (MH):

Semua anestesi lokal golongan ester dan amida aman bagi pasien rentan MH. Epidural menghindari paparan gas volatil dan suksinilkolin. [Hal. 388]

2

Kontraindikasi & Panduan Antikoagulan ASRA

Penolakan pasien, elevasi TIK, batas aman trombosit, dan jeda waktu antikoagulan

Hal. 389–395

Kontraindikasi Mutlak (Absolute)

Hal. 389

Saat ini penolakan pasien (patient refusal) dianggap sebagai satu-satunya kontraindikasi mutlak murni.

Koagulopati Berat / Frank DIC: Kontraindikasi keras neuraksial karena risiko hematoma intraspinal yang menekan medula spinalis secara ireversibel. [Hal. 389, 391]

Kontraindikasi Relatif & Kontroversial

Hal. 389–390
  • Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK): Risiko herniasi serebral jika terjadi dural puncture tak sengaja (ADP). Wajib evaluasi CT/MRI dan gejala defisit fokal. [Hal. 389-390, Gbr 24-2]
  • Sepsis: Risiko bakteremia menginvasi ruang epidural (SEA). Butuh profilaksis antibiotik pra-tindakan. [Hal. 389]
  • Stenosis Aorta Berat (AS) & HOCM: Status preload-dependent; vasodilatasi simpatis mendadak dapat kolaps sirkulasi koroner. [Hal. 395]
  • Penusukan Lewat Tato: Tidak terbukti memicu toksisitas/karsinogenik, namun hindari menusuk pigmen aktif bila memungkinkan. [Hal. 395]
Tabel 24-12: Panduan Blok Epidural pada Terapi Antitrombotik (ASRA)
Hal. 391
Obat Antitrombotik Jeda Waktu Pra-Pungsi / Insersi Kateter Ketentuan Pencabutan Kateter & Heparinisasi Ulang
Aspirin / NSAID Bukan kontraindikasi (Aman) Aman dicabut sewaktu-waktu. Hal. 391
Klopidogrel (Plavix) Tunggu 7 Hari Jangan cabut sebelum fungsi trombosit pulih. Hal. 391
UFH Subkutan 5.000 U q12h Bukan kontraindikasi Bila >10.000 U/hari: keamanan belum pasti, waspada defisit neurologis. Hal. 391
Heparin Intravena (Sistemik) Tunda heparin minimal 60 menit setelah insersi jarum/kateter Periksa aPTT; hentikan heparin 2–4 jam sebelum cabut kateter. Hal. 391
LMWH Dosis Profilaksis Tunggu 12 Jam Tunda dosis berikutnya minimal 4 jam pasca-cabut kateter. Hal. 391
LMWH Dosis Terapeutik Tunggu 24 Jam Kateter baru boleh dicabut setelah 24 jam bebas obat. Hal. 391
Warfarin Hentikan beberapa hari sampai INR normal Cabut kateter saat INR < 1,5. Hal. 391
Clinical Pearl Penting (Hal. 390): Pencabutan kateter epidural memiliki risiko trauma vaskular dan pembentukan hematoma epidural yang SAMA TINGGI dengan saat insersi. Protokol jeda waktu berlaku identik untuk insersi dan pelepasan kateter!
Trombositopenia & Batas Cut-Off Hal. 391–392

Tidak ada angka mutlak, namun konsensus luas merasa nyaman pada trombosit >70.000 /mm³ tanpa manifestasi perdarahan klinis. Pada ITP atau trombositopenia gestasional, fungsi trombosit intak meski jumlah menurun. Untuk pelepasan kateter, ambang batas 60.000 /mm³ umum digunakan. [Hal. 392]

Penyakit SSP yang Ada Sebelumnya Hal. 393

Multiple Sclerosis (MS): Penelitian menunjukkan anestesi epidural tidak memicu relaps MS. Dianjurkan menggunakan konsentrasi LA rendah dan dokumentasi defisit awal lengkap.
Guillain-Barré (GBS): Hati-hati respons hipotensi/bradikardia berlebihan dan blokade motorik yang lebih luas. [Hal. 393]

3

Anatomi Kolumna Vertebralis & Ruang Epidural

Kurvatura kurva spinal, ketebalan ligamentum flavum, celah garis tengah, dan kedalaman ruang

Hal. 395–409
Kurva Fisiologis (Gbr 24-3):

Pada posisi telentang (supine): Titik tertinggi lordosis adalah C5 dan L3. Titik terendah (puncak kifosis) adalah T5–T7 dan S2. Hal. 396

Landmark Permukaan (Tabel 24-16):
  • • C7: Vertebra prominens
  • • T3: Akar spina skapula
  • • T7: Angulus inferior skapula
  • • L1: Batas kosta 12 (10 cm lateral)
  • • L4: Garis Tuffier (krista iliaka)
Hal. 398
Akurasi Palpasi Anestesiolog:

Studi Broadbent & Van Gessel menunjukkan palapasi klinis salah menentukan level lumbal pada 59–71% kasus, paling sering lebih kranial 1–2 segmen (terutama pasien hamil/obesitas). Hal. 398

Ligamentum Flavum & Celah Garis Tengah (Midline Gaps)

Hal. 400–401

Ketebalan Ligamentum Flavum (Tabel 24-17):

Servikal:1.5 – 3.0 mm
Torakal:3.0 – 5.0 mm
Lumbal (Paling Tebal):5.0 – 6.0 mm (dapat 10 mm pd hamil)
Kaudal:2.0 – 6.0 mm
Celah Midline Ligamentum Flavum (Gbr 24-7):

Fusi kedua lamina kanan-kiri sering tidak sempurna:

  • Servikal: celah midline terjadi hingga 74%.
  • Torakal (T10-T11): hingga 35.2%.
  • Lumbal: L1-L2 (22%), L4-L5 (9.3%), L5-S1 (0%).

Konsekuensi: Hilangnya sensasi "pop" dan hilangnya resistensi palsu saat midline approach! Hal. 401

Jarak Kulit ke Ruang Epidural Hal. 408

Pada populasi obstetri normal: 3.5 – 7.5 cm (rerata 4–6 cm pada 76% pasien). Pasien dengan kedalaman dangkal 2–4 cm (16%) memiliki risiko dural puncture 3 kali lipat lebih tinggi karena jarum infiltrasi kulit lokal pun dapat mencapai ruang subaraknoid! Hal. 408

Kedalaman Ruang Epidural Posterior Hal. 408–409

Jarak antara ligamentum flavum ke dura rata-rata 7 mm (kisaran 2 mm hingga 2.5 cm). Dimensi anteroposterior ini paling lebar di regio lumbal (L3–L4), menyempit di torakal, dan hilang/nihil di servikal. Pembuluh vena epidural mayoritas berada di anterior disekat oleh ligamentum longitudinale posterior. Hal. 406–408

4

Fisiologi Blokade & Farmakologi Anestesi Lokal

Diferensial blok, hemodinamik, efek MAC-sparing, kinetika LA, & adjuvan (Klonidin, Neostigmin)

Hal. 409–414
Diferensial Blok & SSP Hal. 409
  • Urutan Blok Sensoris: Suhu diblok pertama kali, diikuti nyeri tusukan jarum (pinprick), dan terakhir sentuhan raba (touch).
  • Tinggi Blok: Blok simpatis 2–6 segmen lebih tinggi dibanding sensoris; sensoris lebih tinggi dibanding motorik.
  • Efek Sedasi & MAC-Sparing: Epidural menurunkan kebutuhan hipnotik dan agen inhalasi (hingga 50% penurunan MAC sevoflurane) akibat hilangnya input aferen ke otak, bukan efek sistemik langsung. Hal. 409
Kardiovaskular, Paru, & GI Hal. 409–411
  • Hemodinamik: Venodilatasi splanknik masif (T6–L1) menurunkan venous return. Blokade serabut akselerator jantung (T1–T4) memicu bradikardia dan penurunan kontraktilitas.
  • Respirasi: Volume tidal tidak berubah meski blok tinggi; kapasitas vital dapat sedikit menurun akibat blok otot ekspirasi dinding dada/abdomen. Apnea pada total spinal akibat hipoperfusi batang otak, bukan paralisis n. frenikus. Hal. 410
  • Gastrointestinal: Simpatektomi menghasilkan dominasi tonus vagal tidak terlawan -> hiperperistalsis, relaksasi sfingter, dan pemulihan ileus lebih cepat. Atropin efektif mengatasi mual akibat hiperperistalsis. Hal. 410
Tabel 24-19 & 24-20: Profil Anestesi Lokal & Waktu Redosing ("Top-Up") Hal. 412, 414
Obat Konsentrasi (%) Onset (menit) Durasi (menit) 2-Segment Regression Waktu Top-Up
2-Chloroprocaine3%5–1530–9045–75 mnt45 menit
Lidocaine2%10–2060–12060–140 mnt60 menit
Bupivacaine0.0625–0.5%15–20160–220180–260 mnt120 menit
Ropivacaine0.1–0.75%15–20140–220180–260 mnt120 menit
Levobupivacaine0.0625–0.5%15–20150–225-120 menit
Klonidin Epidural (α2-Agonis)

Memperpanjang blokade LA melalui kanal kation hyperpolarization-activated cation current (Ih), memodulasi respons stres tanpa blokade motorik. Efek samping: bradikardia, sedasi, mulut kering. Hal. 412–413

Neostigmin Epidural (Inhibitor AChE)

Menghambat degradasi asetilkolin di korda spinalis. Menghasilkan analgesia selektif tanpa depresi nafas, hipotensi, atau blokade motorik. Mual jauh lebih rendah dibanding rute intratekal. Hal. 413

⚠️ Bahaya Midazolam Intratekal

Meskipun pernah diteliti, studi terbaru membuktikan dosis tunggal intratekal midazolam memiliki efek neurotoksik langsung! Saat ini DILARANG untuk penggunaan neuraksial rutin. Hal. 413

5

Teknik Prosedural, Pendekatan, & Tes Dosis

Midline, Paramedian, Taylor L5-S1, Kaudal, Servikal, komparasi LOR Salin vs Udara, dan tes dosis epinephrine

Hal. 414–427
1. Midline Approach

Menembus: Kulit → Subkutan → Lig. Supraspinosum → Lig. Interspinosum → Lig. Flavum → Ruang Epidural. Jarum harus stabil dan tidak 'wobbly'. Hal. 422

2. Paramedian Approach

Injeksi 1 cm lateral dan 1 cm kaudal dari tepi inferior prosesus spinosus kranial. Sudut 15° sagital ke arah midline dan sefalad. Melewati jaringan paraspinous langsung ke flavum tanpa lig. inter/supraspinosum. Pilihan untuk T4–T9. Hal. 424

3. Taylor Approach

Modifikasi paramedian pada interspace L5–S1 yang luas. Masuk 1 cm medial & 1 cm kaudal dari spina iliaka posterior superior (SIPS). Sudut 45–55° medial dan sefalad. Sangat baik untuk trauma panggul. Hal. 425

4. Kaudal Approach

Masuk melalui hiatus sakralis (ditutupi lig. sakrokoksigeal, diapit kornua sakralis). Sudut awal 45° sampai terasa 'pop', lalu turunkan hampir datar menyusuri kanalis sakralis. Populer pada pediatrik. Hal. 425–426

Bahaya Loss of Resistance (LOR) Menggunakan Udara

Hal. 420–421, Tabel 24-26

Buku Hadzic menegaskan: Salin dengan atau tanpa gelembung kecil udara jauh lebih direkomendasikan dibanding udara murni karena komplikasi serius berikut:

• Pneumocephalus (nyeri kepala hebat instan)
• Risiko ADP & keparahan PDPH lebih tinggi
• Blok tidak merata (Patchy block)
• Kompresi gelembung udara pada korda/radiks
• Emboli udara vena (Venous Air Embolism)
• DILARANG keras untuk Epidural Blood Patch!

Tes Dosis Farmakologis Standar

Hal. 426

Formulasi: 3 mL Lidokain 1.5% + Epinefrin 1:200.000 (45 mg lidokain + 15 mcg epinefrin).

Tanda Positif Intravaskular: Peningkatan denyut jantung ≥20% atau kenaikan 10–25 bpm dalam waktu 60 detik. (Pada pasien beta-blocker: gunakan kenaikan tekanan darah sistolik >20 mmHg). [Hal. 426]
Tanda Positif Intratekal / Subaraknoid: Timbulnya blok motorik ekstremitas bawah yang signifikan dalam waktu 3–5 menit akibat 45 mg lidokain. [Hal. 426]

*Pengecualian: Pasien inpartu (kontraksi rahim dapat memicu takikardia fisiologis / false positive) & pasien teranestesi umum (respons tumpul).

6

Komplikasi Berat & Penanganan Kedaruratan

Toksisitas Sistemik (LAST), Hematoma Epidural (Golden 8h), Abses Spinal (SEA), PDPH & EBP

Hal. 431–440

Toksisitas Sistemik Anestesi Lokal (LAST)

Hal. 431–432
Gejala SSP Progresif (Tabel 24-31): Parestesia perioral, tinitus, rasa logam, pandangan kabur → kedutan otot, tremor wajah → kejang umum → koma & henti nafas. Hal. 432
Toksisitas Kardiovaskular: Hipotensi refrakter, bradikardia, blok AV, takikardia ventrikel, torsades de pointes, hingga asistol (terutama bupivakain rasemat). Hal. 432
Urutan Vaskularitas Absorpsi (Tabel 24-30): Interkostal > Kaudal > Paraservikal > Epidural > Pleksus Brakhialis > Femoral/Skiatik. Hal. 432
Protokol Intralipid 20% ASRA (Hal. 432): Bolus IV 1.5 mL/kg selama 1 menit, lanjutkan infus kontinu 0.25 mL/kg/mnt minimal 10 menit setelah hemodinamik stabil. Batasi epinefrin <1 mcg/kg!

Hematoma Epidural & Golden 8 Jam (Hal. 438)

Hal. 438

Insidensi: ~1:150.000 pada epidural. Gejala awal: nyeri punggung hebat persisten, diikuti blokade motorik & sensorik yang memburuk atau timbul kembali setelah sebelumnya sempat pulih. Waspadai blok berkepanjangan! Pemeriksaan pilihan adalah MRI emergensi. Dekompresi bedah laminektomi harus dilakukan dalam <8 jam sejak awitan defisit motorik untuk mencegah paraplegia permanen.

PDPH & Terapi Baku Emas Epidural Blood Patch (EBP)

Hal. 434–435

Karakteristik Klinis (Tabel 24-33): Nyeri kepala fronto-oksipital yang bertambah berat saat posisi tegak/duduk dan mereda saat telentang. Timbul dalam 24–48 jam. Gejala penyerta: kaku kuduk, tinitus, fotofobia, paresis saraf kranial (karena traksi batang otak). Hal. 434

Prosedur EBP (Hal. 435): Pungsi di level ADP atau satu ruang di bawahnya secara steril. Gunakan LOR salin (tanpa gelembung udara). Suntikkan darah autolog steril hingga maksimal 20 mL secara perlahan; hentikan bila pasien merasa nyeri/tekanan di punggung atau leher. Tirah baring minimal 1 jam. Hal. 435